Minggu, 05 Juni 2016

Fauzi Husaini Relawan PMI Berjuang Untuk Aceh


Masihkah Anda ingat 26 Desember 2004 Indonesia berduka dengan peristiwa Tsunami yang terjadi di Aceh?sebanyak sekitar 29 ribu jiwa meninggal akibat terpaan ombak tsunami yang berlangsung selama 25 menit di pagi hari.Ribuan jiwa melayang namun banyak juga yang selamat dan nyawanya tertolong berkat bantuan Palang Merah Indonesia ( PMI ) dan Relawan Respon Bencana.Seorang relawan yang saya kenal adalah Fauzi Husaini atau Bang Poli biasa dipanggil bercerita tentang aktifitasnya menjadi relawan PMI.

                                                            Foto:Bang Poli di Tugu Tsunami

"Saya termasuk PMI Aceh Sukarelawan 3 masa yaitu komplik,gempa dan tsunami Aceh dan masa damai",ucap Bang Poli mengawali ceritanya
"Masa damai?!",saya bertanya karena belum paham maksudnya
"Ya,masa damai itu setelah bentrokkan antara TNI dan GAM.Ini saat yang menegangkan.Dimana saya dan para relawan lain pernah terjebak dalam kontak senjata waktu mau evakuasi mayat.Begitupun saat mau distribusi bantuan obat-obatan.Nyawa taruhannya,namun karena saya menyukai pekerjaan ini jadi enjoy!"
)
                               Foto:evakuasi mayat tsunami oleh relawan PMI

Bang Poli sejak SMP sudah menyukai kegiatan dalam sosial,menolong sesama tanpa pamrih.Di bulan Juni 2000 saat PMI Provinsi Aceh membutuhkan sukarelawan yang siap 24 jam,pria kelahiran Aceh langsung mendaftarkan diri.Diantara peristiwa tsunami dan komplik GAM mana yang  paling menyentuh sisi kemanusiaan?
"Tsunami inilah peristiwa yang sampai sekarang tidak terlupakan oleh saya walaupun peristiwanya sudah berlangsung 12 tahun yang lalu.Dimana saya dan anggota saya bahu membahu bersama PMI mencari mayat yang ditelan ombak Tsunami dan menyelamatkan yang terluka".Sebagai Kepala Divisi Penanggulan Bencana yang beranggotakan 1 staf Kesiap siagaan dan 1 Respon tanggap darurat Bang Poli bekerja cepat bersama stafnya,PMI Provinsi Aceh,perhimpunan nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah,Comite Red Cross Red Crescent ( ICRC )



Bang Poli berkisah bagaimana ia dan teamnya membantu keluarga korban Tsunami yang terpencar dan menyatukan kembali
"Di relawan dikenal dengan sistem Ristoring Famili Link yaitu menyatukan keluarga yang terpisah dimana keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarga melaporkan ke PMI  setempat.Dan mengisi lembaran SAYA MENCARI.Kemudian daftar nama-nama dikirim secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten,provinsi dengan fasilitasi PMI Pusat bekerja sama dengan ICRC"
Penuh semangat Bang Poli bercerita bagaimana cara kerja team Relawan Bencana:
1.Membuka jaringan komunikasi telphone selama 2 menit untuk setiap orang yang mau menghubungi keluarga dengan mengisi daftar telephone
2.Mengisi Daftar Saya Mencari dan Saya Alamat
3.Hanphone yang berhasil ditemukan disaku korban nomor-nomor yang ada dilacak untuk mengetahui nomor orang terdekat korban
4.Untuk jenazah KTP dikumpulkan dari dompet korban dan mendatanya termasuk tempat kuburan massal yang dikebumikan
Pria yang pernah mengikuti beberapa pelatihan seperti Tanggap Darurat BencanamEvakuasi,Logistik dan Desa tangguh mengungkapkan,"
Kebahagiaan tersendiri ketika pihak relawan PMI ini berhasil menemukan keluarga yang hilang.Dalam peristiwa tsunami PMI juga dibantu oleh 43 negara,perhimpunan Nasional Palang Merah dan Bulat Sabit Merah dan ICRC"
Ada hal yang mengagumkan ketika Bang Poli bercerita bahwa para relawan dan team lain yang menemukan mayat-mayat tsunami ada ditemukan benda berharga tertinggal emas dan uang.Disinilah kejujuran itu teruji.Oleh PMI emas  1,82kg dan uang 26 juta rupiah dikumpulkan dan diserahkan kepada Baitul Mal provinsi Aceh sebuah badan yang mengurus harta dan zakat.
                                       Keterangan:emas & uang yang ditemukan
Bang Poli masih ingat jiwa-jiwa yang selamat namun terluka di peristiwa Tsunami langsung dibawa ke rumah sakit Kesdam dan ada juga yang dirujuk ke rumah sakit Medan.Peran serta PMI dalam membantu sangat besar seperti memberikan bantuan pelayanan kesehatan,distribusi barang,pembangunan rumah,sekolah,puskesmas yang rusak.Yang pasti PMI begitu peduli.
Pernah suatu hari kejadian di Simpang Jambo Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh kontak senjata di malam hari sekitar pukul 8 malam,dimana ada anak kecil yang terkena peluru.
                           Keterangan:truk membawa logistik
"Keadaannya sangat memprihatikan!perlu donor darah.Dan kami para Relawan sudah terbiasa berdonor dalam keadaan urgent.Untungnya diantara kami ada yang golongan darahnya sama sehingga kami tidak perlu meminta lagi kepada PMI ",tutur pria lulusan sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri ini.
Oh ya disetiap wilayah kabupaten maupun kota Aceh banyak sukarelawan yang hatinya tersentuh membantu untuk PMI.Di provinsi Aceh sendiri terdapat 23 perwakilan PMI yang tersebar di kabupaten maupun kota.Bang Poli berharap para generasi muda mau tergerak untuk membantu dalam beraktifitas dan berkarya untuk generasi muda
Dan sebelum menutup pembicaraan pria yang menjabat sebagai Kepala Penanggulan Bencana PMI provinsi Aceh ini berharap agar DPR-RI dan Presiden Jokowi segera men-syah-kan Rancangan Undang-Undang Palang Merah agar PMI ke depannya lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan untuk masyakat.
Sukses untuk Bang Poli,semoga jejak jiwa sosial abang diikuti oleh generasi muda di seluruh Indonesia (D/s)

Note:
Sumber foto dari koleksi pribadi Bang Poli

4 komentar:

  1. kita patut acungi jempol buat relawan-relawan ini ya, salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sis,aku juga mau acungkan tangan utk mereka

      Hapus
  2. Kalau lihat voulenter gt di mata saya mereka itu kereeeeenn

    BalasHapus
  3. Bukan hanya keren mas,tetapi hebaaaattt...euy,thanks mas Agung

    BalasHapus