Minggu, 05 Maret 2017

Menggenggam Masa Depan Bersama Anak Penyandang Autisma



Foto: lukisan karya Tomi Hartanto

Haikal Setiawan diusia 2,5 tahun senangnya menyendiri dan loncat-loncat.Di usia 3 tahun belum bisa bicara.Sebagai orangtua,Harry,down.Mengapa tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak kebanyakkan sebayanya dan tidak fokus.Dari hasil penelusuran dan bertanya dengan banyak orang dan tentunya konsultasi ke dokter akhirnya Kang Harry begitu biasa dipanggil,mendapat jawaban bahwa anaknya mengalami Autisma.
Apa itu Autisma?
Autisma sebuah kondisi pada diri anak-anak yang biasanya sudah mulai terlihat di usia 3 tahun,ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi,interaksi sosial,pola bermain dan perilaku emosi.Dan ciri lainnya anak Autisma sulit menatap lawan bicara dan melakukan gerakan berulang-ulang


Apakah anak Autisma bisa berprestasi?


Seringkali para orangtua hopeless alias putusasa ketika mengetahui anaknya penyandang Austisma
Tidak sedikit yang minder dan menjauhkan si anak dalam kehidupan sosial.Cara yang salah!
Anda mengenal artis Ferina Wibowo,penyanyi yang tergabung dalam grup  vokal Elfa's ditahun 1990-an.Wanita yang masih terlihat cantik ini memiliki 3 anak pria.Anak ke-2 nya Wismubroto Putra Widodo,23 tahun,Autism namun berprestasi dalam bidang akademik.Ini terbukti dengan mampu menembus bangku kuliah IPB.Bagaimana Ferina bisa mengantarkan anaknya? 
Nah melalui bincang-bincang hangat di Selasa siang 28 Febuari 2017,bersama Interface,BPN &Optima Media (dibawah naungan manajemen NAVAPLUS Group )meluncurkan program "KITA SAMA" Dalam meningkatkan kepedulian terhadap masa depan anak penyandang Autisma.Program KITA SAMA terdiri dari lomba foto bercerita dan lomba menggambar berwarna khusus untuk penyandang autisma dan para kerabatnya.



Talkshow yang berlangsung di gedung BRI Agro Jakarta ini selain menghadirkan Ferina,Kang Hary hadir juga David Wibowo Presiden Direktur dari Navaplus Group),Fani Karina Basri (Community Marketing Director Interface BPN),Saskya Aulia Prima,M,Psi,Maya Sujatmiko (konsultan seni),Wiĺly Yoh (pencinta fotografi ) dan Yunny Raharja ibu dari Tomi Hartanto,penyandang Autisma

"Program KITA SAMA salah satu kegiatan yang ditujukan untuk menyebarkan pesan kepada masyarakat luas bahwa anak berkebutuhan khusus ( ABK ) memiliki kesempatan yang sama dengan anak yang dilahirkan normal.Mereka dapat berprestasi dan menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk mengejar cita-cita mereka dan sukses di masa depan",ujar pak David
Hal senada juga diungkapkan Rani,
"KITA SAMA merupakan kegiatan untuk dapat membentuk dan merubah persepsi baik penyandang,orangtua dan masyarakat bahwa anak autisma itu dapat sejajar dengan anak-anak normal.Melalui kegiatan pengembangan bakat kami berharap tumbuh rasa percaya diri dan optisme bagi penyandang autisma untuk menatap dunia

"Art atau seni merupakan salah satu penyaluran bagi anak autisma dalam menyalurkan ekspresi pikiran dan perasaan mereka.Juga membantu mengurangi setres dan ketegangan sehari-hari dan meningkatkan daya pengelolaan sensitivitas indera mereka",ucap Saskhya,psikolog dari Tiga Generasi
Menurut penelitian Dr.Laurent Mottron yang sudah bertahun-tahun meneliti autisma,bahwa otak anak penyandang Autisma sangat baik dalam kemampuan mengingat dan mengalisis pola suatu hal
"Mereka sangat fokus pada saat bekerja tanpa harus dipaksa,memiliki daya kreatifitas yang tinggi dan minat mereka yang spesifik dapat berkontribusi besar pada produktifitas saat bekerja nanti",tambah wanita berparas ayu ini.
"Anak saya Wismu memiliki kelainan dalam pendengaran,hiperaktif.Jujur sama dengan Kang Hary saya sempat down dan berat.Namun bersama suami kami bertekad untuk mensukseskan.Autisma bukan penyakit.Untuk para orangtua yang memiliki anak Autisma jangan menutup diri karena anak Autisma perlu bersosialisasi dan optimalkan bakat anak.Apakah di bidang seni musik atau lukis",ucap Ferina berbagi cerita tentang pengalamannya dalam membesarkan anaknya
Seperti kata Maya bahwa anak Autisma skill visualnya kuat.
"Foto memori dalam menggambar tanpa melihat contoh ini kelebihannya.Hayalannya kuat yang belum tentu dimiliki oleh anak normal"
Inilah kelebihan penyandang Autisma yang belum tentu anak normal bisa melakukan tanpa contoh.Hal ini karena mereka fokus pada satu bidang.
Untuk itulah Interpeace.BPN &Optima Media meluncurkan program KITA SAMA.Karena penyandang Autisma itu fokus.Lomba ini diperuntukkan umum namun ada khususnya.Untuk lomba Menggambar Berwarna ditujukan bagi semua anak-anak penyandang autisma seluruh Indonesia,berumur dibawah 15 tahun.Media yang digunakan dalam lomba menggambar ini adalah kertas gambar dengan crayon wax/ lilin /crayon oil pastel.
Ukuran kanvas yang wajib adalah minimum 25×30 cm dengan ukuran kertas gambar minimum A3 (200 gr )

Sedangkan untuk Kompetisi Foto Bercerita,untuk WNI yang memiliki kerabat berkebutuhan khusus dengan mengirimkan karya rangjaian foto bercerita.Foto dikirim anrara3-6 foto dan setiap foto disertai cerita ( caption ) dengan minimal 200 kata.Semua karya yang dilombakan bisa dikirim melalui email: programkitasama@gmail.com,instagram dengan hastag #FOTOKITASAMA #GAMBARKITASAMA dan jangan lupa di mention juga ke @programkitasama.Lomba ini berlangsung hingga akhir Maret dan awal May diumumkan pemenangnya
Acara ini mendapat dukungan dari Yayasan Autisma Indonesia,Tiga Generasi ,Peduli Autisme,PT.Indolakto (Indomilk),PT.Hutchison Three,Artsphere,MNC Channels,IRIS Indonesia,Pathfinder serta pihak-pihak lain.

Cerita Bunda Yunny


Foto:Bunda Yunny sedang ngobrol sambil belajar dengan Tomi

Sepanjang acara talkshow,jujur fokus saya terpecah antara mendengarkan nara sumber dan memperhatikan tingkah si Tomi nan ganteng plus berpipi chubby,karena Tom dan mamanya Yunny Raharja duduk persis di samping saya.Bagaimana mau fokus,tingkah Tom yang lucu dan selalu berbahasa Inggris membuat saya penasaran.Kata mamanya Tom penyandang autisma.Ah masa sih?! Jujur,awal tidak percaya.Karena Tom sehat,lincah,komunikasi lancar,bilingual Inggris-Indonesia,seperti tidak ada masalah.Disaat lunch saya tidak menyia-yiakan Bunda Yunny,mamanya Tomi untuk berbagi cerita

"Tomi Hartono lahir 19 September 2008.Belum 9 tahun tapi badannya besar karena suka makan",tawa Yunny berderai.Melihat wajah wanita cantik ini seperti tidak ada beban,padahal kalau mendengar cerita perjuangannya untuk Tomi hingga sekarang bisa bicara.luarrr...biasa begitu kuat
"Sama dengan orangtua yang lainnya berharap ketika anaknya lahir tumbuh kembangnya sempurna.Namun diatas usia 1 tahun Tomi sudah menunjukkan hal yang berbeda seperti tidak mau disentuh,eye contact hanya sebentar,dipanggil acuh dan usia yang nyaris 2 tahun Tomi belum bisa bicara.Saya shock!"

Yunny down.Diusia 1,9 bulan Yunny membawa Tommy pertamakali terapi di Pluit dengan Dr.Tjin Wiguna.Hasil diagnosa dokter kondisi Tomi condong Autisma.Seorang ibu tentunya ingin memberikan yang terbaik pada buah hatinya,begitupun dengan Yunny.Berbagai tempat terapis yang kata orang bagus didatangi.Namun hasilnya tidak maksimal,tidak sesuai dengan harapan.Usia 4 tahun Tomi baru bisa keluar kata wawa untuk arti binatang burung dan bebek.Dan di usia 4,5 ada kemajuan sedikit saja.Tomi sudah bisa panggil Mama.Tomi bicara masih kaku,sesuai dengan draft misalnya,"Mama,Tomi mau...."

Tomi itu suka tokoh kartun Thomas.Nah,kata Thomas itu Tomi hapal sekali. 
"Yang ngeselin setiap kali bertanya dan membutuhkan jawaban Tomi jawabnya,Thomas,ha...ha..ha..",Yunny tertawa begitupun Tomi yang berada disamping sang bunda ikut tertawa.Pipinya yang chubby gemesin,putih montok.Gak tahan aku cium pipi montok Tomi


Foto:Kebahagiaan Yunny bersama Tomi

"Sekarang yang terlihat Tomi seperti anak lain kebanyakan,lincah,normal,komunikatif.Saya bisa bernafas lega 2 tahun terakhir ini dari sebuah perjuangan seorang diri.Banyak kekecewaan yang saya alami ketika Tomi bersekolah dan terapi.Dari sekolah nasional sampai internasional.Tomi pernah di bully oleh gurunya.Belum lagi banyak tambahan terapi yang katanya untuk perkembangan motorik Tomi.Namun hasilnya nihil,sementara uang yang saya keluarkan banyak.Akhirnya saya dengan kebulatan hati saya putuskan untuk mendidik Tomi dengan cara saya sendiri,home schooling"
Bukan persoalan mudah bagi ibu berkulit putih ini memutuskan Tomi home schooling,karena keluarga menantang.Yunny sempat gamang apalagi yang menjadi guru untuk Tomi dirinya sendiri yang tidak ada latar belakang pernah menjadi guru.Namun Yunny tetap nekad!

"Kalau bukan saya,siapa yang mau memperjuangkan nasib Tomi.Saya ingin anak saya bisa mengemukakan pendapatnya,bisa berargumentasi.Semua ini tentunya dimulai dari komunikasi 2 arah.Sangat tidak mudah mengajarkan anak berkebutuhan khusus seperti Tomi.Apalagi kalau dia tidak mood belajar tidak mau ya tidak.Namun walau Tomi sedang tidak mood saya tidak bisa mengikuti moodnya,sabar namun tetap mengajarkannya perlahan sampai dia mood lagi.
Puji Tuhan sekarang Tomi sudah bisa membaca,menulis dan berhitung.Dan Tomi paling suka gambar dan bikin komik",ujar Yunny dengan mata berbinar,bahagia
Angkat 2 jempol untuk perjuangan wanita yang bekerja wiraswasta ini.Sebelumnya Yunny bekerja kantoran namun melihat keadaan Tomi,Yunny memutuskan bekerja yang fleksibel agar waktunya banyak untuk Tomi.Sebelum mengakhiri obrolan kami,Yunny memberikan saran untuk para orangtua anak penyandang Autisma


Foto :Tomi,Homeschooling.Focus belajar
  • Autisma bukan penyakit,terima dengan ikhlas pemberian Sang Pencipta
  • Jangan acuh dan pasrah,karena penyesalan seumur hidup
  • Jika memiliki dana lebih ikuti tahapan terapi namun jika tidak ada bisa berlatih melalui tutorial dari you toube
  • Jangan bosan untuk menggali informasi sebanyaknya tentang Autisma
  • Anda adalah orangtua yang bertanggung jawab pada masa depan anak jadi teruslah berjuang
Setiap anak dianugrahi bakat oleh Sang Pencipta,gali potensi bakatnya dan arahkan.Maka itu yang kelak membawanya berprestasi  (D/s)


14 komentar:

  1. Suka sedih klo melihat anak-anak istimewa ini. Alhamdulillah dilahirkan tanpa kekurangan. Berharap bisa lebih mengenal dunia anak2 istimewa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak istimewa ini gift from God untuk para orangtua.Tapi karena Tuhan tahu "mereka" para parent ini kuat dan bisa membimbing ABK.Semangat dan semangat.Thanks sis

      Hapus
  2. Menjadi orang tua yg hebat bukan dihasilkan dari kemakmuran, kemegahan dan kesenangan. Mereka terbentuk dari kesukaran, tantangan dan airmata.

    Terima kasih mba Dennise sudah menulis ttg anak2 spesial. Membuka mata hati kita untuk mensyukuri apa yg kita miliki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Yola I miss u...kapan nih di undang untuk meliput ABK.Rare Disorders Indonesia kapan ada acara lagi?semoga ada kesempatan aku mau hadir.Mbak Yola,Mbak Yunny Raharja,Mbak Ferna Wibowo adalah orangtua special yang disayang Tuhan.Mengasuh,Mendidik,penuh kasih.Angkat 2 jempol

      Hapus
  3. Tulisan kayak gini yg harus diperbanyak. Menambah pengetahuan dan membuka mata twntang autism

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Andri semoga mendapat kesempatan meliput tentang Autisma,Rare Disorders agar kita yang tidak tahu menjadi tahu.Thanks ya

      Hapus
  4. Setiap anak adalah bintang, sumber bahagia ayah dan ibunya.
    Artikel ini membuka mata, anak istimewa tetap menjadi pelita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas.Anak istimewa dari orangtua yang istimewa di mata Sang Pencipta.Thanks mas Agung

      Hapus
  5. subhanallah, ibunya harus sabar yaa.. semoga dimudahkan proses belajarnya amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien mbak...ibu2 yang kuat,full sabar,thanks mbak

      Hapus
  6. Luar biasa Kak tulisannya menjadi inspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Ndra,semoga menjadi inspirasi untuk orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

      Hapus
  7. Ibu yang sabar ngurus anak autis itu gilaaa banget kerennya....

    BalasHapus
  8. Betul... Uwan,angkat 2 jempol untuk ibu2 tangguh Mbak Ferina,Mbak Yunny.

    BalasHapus